Minggu, 01 April 2012

OPINI PUBLIK


Public opinion dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan dengan "pendapat umum", dengan demikian publik diterjemahkan dengan "umum" sedangkan opinion diartikan sebagai "pendapat".
            Definisi opini publik dalam buku yang berjudul Public Opinion and Propaganda menurut Leonard W. Doob, yaitu :
"Public opinion refers to people's attitude on an issue they are members of the same social group."
Artinya opini publik yang dmaksud adalah sikap orang-orang mengenai sesuatu soal, di mana mereka merupakan anggota dari sebuah masyarakat yang sama."

            Jadi yang membentuk opini publik adalah sikap pribadi seseorang ataupun kelompoknya yang sikapnya ditentukan oleh pengalamannya, pengalaman dari dan dalam kelompoknya itu pula. dalam penelitian ini, investor dan konsultan yang berhubungan dengan spipise dipilih untuk memberikan opini terhadap kualitas pelayanan di SPIPISE.
            Selanjutnya Leonard W. Doob memberi beberapa pedoman dalam meneliti opini publik. suatu opini publik dianggap kompeten atau mampu memenuhi syarat opini publik dalam arti khas bila :  
1)      Fakta yang dipakai sebagai titik tolak dari perumusan opini publik, diberi nilai "baik" oleh masyarakat luas.
2)      Dalam penggunaan fakta (ataupun keadaan di mana suatu sikap justru diambil karena tidak adanya fakta), orang sampai pada kesimpulan dan kesepakatan mengenai tindakan yang harus diambil untuk memecahkan persoalan.

            Dengan demikian maka dalam penilaian kompeten mampu memenuhi syarat-syarat sebagai opini publik dalam arti khas harus ditinjau pada fakta, nilai, opini publik dan kompetensi. Pembentukan opini publik dibentuk sendiri oleh publik yang selektif, sehingga setiap masalah dapat diselesaikan dan karena itu untuk setiap masalah selalu ada publiknya sendiri-sendiri.
            Dalam hubungan ini Leonard W. Doob mengemukakan batas-batas kemampuan Opini publik, yaitu perhatian orang terhadap suatu masalah itu sangat tergantung pada pengetahuan dan pendidikannya masing-masing. kemudian kebijaksanaan tergantung juga dari penilaian serta seleksi publik terhadap fakta dan nilainya sendiri.
            Selain itu pada kenyataannya bahwa setiap persoalan mempunyai banyak segi sehingga untuk hal-hal yang kompeten yang menimpa masyarakat luas, opini publik (yang kompeten) itu terdiri dari banyak publik. Yang terakhir adalah tidak adanya standar ataupun ukuran dalam penyelesaian ciri khas masing-masing. Hal ini tergantung mental, pengalaman, perasaan, kebudayaan dan ide yang telah tersebar dalam masyarakat.
            Dari pendapat atau definisi di atas, maka dapat kita simpulkan beberapa poin:
1)      Opini publik adalah pendapat rata-rata kelompok tertentu atas suatu hal yang penting.
2)      Opini publik adalah suatu campuran yang terdiri dari berbagai macam; pikiran, kepercayaan, paham, anggapan, prasangka, dan hasrat. Opini publik bukanlah suatu hal yang baku dan dapat berubah-ubah.
            Terbentuknya opini publik meliputi dua sebab, yaitu direncanakan dan tidak direncanakan. Berikut ini penjelasannya :
Sebuah opini publik yang tidak direncanakan kemunculnnya dikeluarkan karena memang tidak mempunyai tujuan dan target tertentu. Lain halnya dengan opini publik yang direncanakan, karena direncakan, maka keorganisasian, media, target tertentu yang menjadi sasaran jelas disini. Ia muncul karena untuk mempengaruhui opini publik yang sudah berkembang di masyarakat.

            Tiga pola yang dikemukakan oleh Scott M. Cutlip dan Allen Center, dalam proses terjadinya opini publik, yaitu :
1)      Mengangkat ke permukaan sebuah isu, kemudian bekerja sama dengan berbagai pihak.
2)      Melemparkan isu atau topik tersebut kemudian diperdebatkan untuk mencari jalan keluar dan pemecahannya.
3)      Mengarahkannya atau menggiring suatu isu dan topik tersebut ke arah pemecahan yang dapat diterima oleh masyarakat umum.

            Selain itu, menurut Ruslan pembentukan opini publik juga dapat dikenal dengan istilah ABC's of attitude, yaitu :
1)      Komponen A : Affective (perasaan / emosi)
Komponen ini merupakan suatu hal yang berkaitan dengan perasaan senang, suka, sedih, takut, benci, bangga dan bosan terhadap sesuatu.
2)      Komponen B : Behaviour (tingkah laku)
Ini merupakan komponen yang lebih menonjolkan tingkah laku seseorang, seperti timbulnya reaksi setelah melihat suatu hal yang berhubungan dengan suatu hal, contohnya adalah reaksi untuk melakukan hal yang dilihatnya.
3)      Komponen C : Cognition (penalaran)
Ini merupakan suatu komponen yang berkaitan dengan penalaran seseorang untuk menilai suatu informasi, pesan, fakta dan lain-lain.

            George Carslake Thompson dalam “The Nature of Public Opinion“ (Sastropoetro, 1990: 106) mengemukakan bahwa dalam suatu publik yang menghadapi issue dapat timbul berbagai kondisi yang berbeda-beda, yaitu :
1)      Mereka dapat setuju terhadap fakta yang ada atau mereka pun boleh tidak setuju.
2)      Mereka dapat berbeda dalam perkiraan atau estimation, tetapi juga boleh tidak berbeda pandangan.
3)      Perbedaan yang lain ialah bahwa mungkin mereka mempunyai sumber data yang berbeda-beda.
            Hal-hal yang diutarakan itu merupakan sebab timbulnya kontroversi terhadap issue-issue tertentu. Selanjutnya dikemukakannya bahwa orang-orang yang mempunyai opini yang tegas, mendasarkannya kepada rational grounds atau alasan-alasan yang rasional yang berarti “dasar-dasar yang masuk akal dan dapat dimengerti oleh orang lain“.
            Seperti telah dikemukakan terlebih dahulu dan perlu diulangi kembali ialah bahwa ada tiga sebab yang menimbulkan adanya suatu perbedaan pendapat, yaitu :
1)      Perbedaan pandangan terhadap fakta.
2)      Perbedaan perkiraan tentang cara-cara terbaik untuk mencapai tujuan.
3)      Perbedaan motif yang serupa guna mencapai tujuan.
            Dasar-dasar rasional yang berhubungan dengan ketiga sebab tadi berarti disebabkan oleh perbedaan-perbedaan itu, maka timbul kehati-hatian dalam pandangan agar mencapai suatu keserasian bagi terbentuknya suatu ekstraksi pendapat yang menguntungkan. Kemudian dalam hubungannya dengan penilaian terhadap suatu opini publik, perlu diperhitungkan empat pokok, yaitu :
1)      Difusi, yaitu apakah pendapat yang timbul merupakan suara terbanyak, akibat adanya kepentingan golongan.
2)      Persistence, yaitu kepastian atau ketetapan tentang masa berlangsungnya issue karena disamping itu, pendapat pun perlu diperhitungkan.
3)      Intensitas, yaitu ketajaman terhadap issue.
4)      Reasonableness atau suatu pertimbangan-pertimbangan yang tepat dan beralasan.
            Dari tahapan-tahapan pembentukan pendapat tersebut dapatlah dibayangkan bahwa dalam proses itu telah timbul pro dan kontra atau setuju dan tidak setuju. Semua itu disebabkan oleh kerangka pengetahuan dan pengalaman masing-masing orang yang berada di dalam publik itu berbeda-beda. Disamping itu, sifat orang-orang yang bersangkutan pun berbeda-beda juga, belum lagi kemampuan yang menyangkut pengutaraan pendapat atau isi hatinya.
Cara Mengetahui Adanya Opini Publik
Opini publik itu mempunyai ciri-ciri :
1)      Selalu diketahui dari pernyataan-pernyataan.
2)      Merupakan sintesa atau kesatuan dari banyak pendapat.
3)      Mempunyai pendukung dalam jumlah banyak.
            Sebagai alat atau cara mengukur opini publik yang ideal menurut teorinya ada beberapa cara antara lain :
1)      Referendum (plebisit)
Suatu pemungutan suara yang dapat dilakukkan secara langsung ataupun tidak langsung
2)      Melalui media massa
Seperti kita ketahui bahwa media massa memberitahukan atau menyampaikan infomrasi tertentu juga membawa aspirasi suatu kelompok atau golongan tertentu. Inilah yang sering dinamakan opini dan biasanya dapat kita baca dalam tajuk sesuatu penerbitan.
3)      Sampling
Opini publik dapat juga diukur secara sampling, dengan cara mengambil sample antara lain dengan memilih beberapa orang yang dianggap dapat mewakili untuk pembentukan opini. Opini publik diukur melalui sampling seperti ini juga dilakukan oleh Gallup Institude.
4)      Polling sistem
Polling dapat dilakukan secara lisan dan tertulis.
5)      Public Research
Untuk mengukur opini publik dengan lisan, kepada responden dinyatakan atau diajukan pertanyaan-pertanyaan lisan (interview). Pertanyaan secara lisan ini intensitasnya tinggi sebab jawaban responden secara spontan tanpa dibuat-buat.

            Dalam penelitian ini, peneliti mengukur opini investor dan konsultan yang berhubungan dengan SPIPISE dengan menggunakan teori sampling yaitu Opini publik dapat juga diukur secara sampling, dengan cara mengambil sample antara lain dengan memilih beberapa orang yang dianggap dapat mewakili untuk pembentukan opini.
Beberapa Istilah Lain Opini
            Seperti telah dikemukakan pada uraian terdahulu, Public Opinion sering diterjemahkan sebagai "pendapat umum", sedangkan pendapat umum sesungguhnya lebih tepat untuk menterjemahkan general opinion, yang sudah tentu mempunyai arti lain dengan public opinion.
Menurut Emory S. Bogardus ada beberapa istilah yang sangat erat hubungannya dengan opini publik yaitu sebagai berikut :
1.      Opini Personal (Personal Opinion)
Adalah penafsiran individual mengenai berbagai masalah dimana terhadapnya tidak terdapat suatu pandangan yang sama. Ada pula yang menerangkan bahwa opini personal itu adalah suatu penafsiran itu terdapat kesulitan untuk memberi pembuktian atau pertentangan dengan segera. Dengan demikian harus kita akui bahwa opini kelompok dapat terjadi karena adanya opini personal dan kedua opini ini yang kemudian menjadi salah satu bagian dari opini publik.
2.      Opini Pribadi (Private Opinion)
Meruapakan aspek yang sanagat penting bagi berkembangnya opini personal. Hal ini disebabkan opini pribadi adalah suatu bagian dari opini personal yang tidak dinyatakan. Secara jelasnya opini pribadi itu tidak dinyatakan secara terbuka karena adanya alsan-alasan tertentu tersimpan secara pribadi dalam hati sanubari orang yang bersangkutan. Apabila opini tersebut akhirnya dinyatakan hanyalah terbatas dalam lingkungan sahabt-sahabatnya yang dianggap dan dipercaya oleh yang bersangkutan atau dianggap sebagai orang yang berpihak kepadanya atau paling tidak sebagai orang yangidak akan membocorkan opini pribadi tersebut kepada pihak luar.
3.      Opini Kelompok
Pada uraian diatas telah dikemukakan bahwa adanya opini kelompok hanyalah dimungkinkan karena adanya opini personal. Dalam opini kelompo itu terdiri dari opini mayoritas dan minoritas.
1)      Opini Mayoritas
Adalah opini yang dinyatakan atau sedikitnya dirasakan oleh lebih dari setengah dari suatu kelompok atau lingkunga. Biasanya opini mayoritas ini dapat tercapai apabila digunakan dengan cara paksaan yang berupa sanksi-sanksi sosial tertentu di mana suatu kelompok sosial telah mempunyai nilai atau norma-norma kelompok tertentu.
2)      Opini Minoritas
Adalah suatu konklusi yang didukung oleh kurang dari separo jumlah anggota kelompok yang berkepentingan.
4.      Opini Koalisi (Coalition Opinion)
Opini minoritas menggabungkan diri agar dapat mewujudkan suatu opini mayoritas. Opini yang demikian ini disebut opini koalisi, yang tumbuh karena adanya pengaruh dari luar dan memerlukan adanya perkembangan opini.
5.      Opini Konsensus (Consesus Opinion)
Opini konsensus merupakan bentuk opini yang mempunyai kekuatan lebih dari opini mayoritas. Dalam opini konsensus diwujudkan dengan proses diskusi berdasarkan pertimbangan bersama sehingga tercapai kata mufakat.
6.      Opini Umum (General Opinion)
Opini yang berakar kepada tradisi serta adat istiadat, berkembang dari dulu hingga sekarang dan telah diterima sebagaimana adanya tanpa kesadaran dan kritik dari generasi lama oleh generasi baru yang lebih muda. Opini umum merupakan iklim sosial di mana sebagian besar bersumber dari opini personal, opini kelompok demikian juga opini publik.

            Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini termasuk dalam opini personal, adalah penafsiran individual mengenai berbagai masalah dimana terhadapnya tidak terdapat suatu pandangan yang sama. Setiap personal akan memberikan opininya mengenai permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini, karena penulis ingin mengetahui opini personal terhadap kualitas pelayanan SPIPISE di BKPM.
            Telah dikemukakan bahwa opini publik atau pendapat publik sebagai suatu kesatuan pernyataan tentang suatu hal yang bersifat kontroversial, merupakan suatu penilaian sosial atau social judgement. Oleh karena itu, maka pada pendapat publik melekat beberapa kekuatan yang sangat diperhatikan :
1)      Opini publik dapat menjadi suatu hukuman sosial terhadap orang atau sekelompok orang yang terkena hukuman tersebut. Hukuman sosial menimpa seseorang atau sekelompok orang dalam bentuk rasa malu, rasa dikucilkan, rasa dijauhi, rasa rendah diri, rasa tak berarti lagi dalam masyarakat, menimbulkan frustasi sehingga putus asa, dan bahkan ada yang karena itu lalu bunuh diri atau mengundurkan diri dari jabatannya.
2)      Opini publik sebagai pendukung bagi kelangsungan berlakunya norma sopan santun dan susila, baik antara yang muda dengan yang lebih tua maupun antara yang muda dengan sesamanya.
3)      Opini publik dapat mempertahankan eksistensi suatu lembaga dan bahkan bisa juga menghancurkan suatu lembaga.
4)      Opini publik dapat mempertahankan atau menghancurkan suatu kebudayaan.
5)      Opini publik dapat pula melestarikan norma sosial.
            Untuk memahami opini seseorang dan publik tidaklah mudah. Menurut R.P. Abelson, hal ini berkaitan dengan:
1)      Kepercayaan mengenai sesuatu (belief).
2)      Apa yang sebenarnya dirasakan atau menjadi sikapnya (attitude).
3)      Persepsi. Suatu pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi serta menafsirkan pesan dan persepsi merupakan pemberian makna pada stimuli inderawi.

1 komentar: